About

Information

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Wisata Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Kuliner. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Juni 2013

Rujak Cingur Dinobatkan Sebagai Makanan Bergizi

Rabu, 26 Juni 2013 - 20:39:13 WIB
Rujak Cingur Dinobatkan Sebagai Makanan Bergizi
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Surabaya) - Perhimpunan Peminat Gizi Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia menobatkan rujak cingur khas Kota Surabaya sebagai makanan tradisional yang mengandung gizi yang seimbang.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan penobatan itu diberikan pada saat acara Penghargaan Peduli Gizi 2013 Kategori Pangan Sepinggan Tradisional yang digelar Pergizi di Balai Kartini Jakarta, Rabu (26/06).

"Pemerintah Kota Surabaya memang sudah sejak dulu berkomitmen menjadikan rujak cingur sebagai kuliner heritage," katanya.

Selain itu, lanjut dia, pemkot memandang makanan yang terdiri dari cingur, buah-buahan, sayuran, dan racikan bumbu rujak uleg itu merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan.

Oleh karenanya, setiap tahun di Surabaya digelar Festival Rujak Uleg yang selalu dibanjiri ribuan orang.

Upaya lain yang ditempuh pemkot yakni dengan mendaftarkan rujak cingur ke UNESCO, organisasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang membidangi masalah pendidikan, sains, dan budaya.

Hal ini bertujuan untuk mendapatkan pengakuan bahwa rujak cingur merupakan makanan khas warisan budaya dari Surabaya.

"Penghargaan ini kami dedikasikan bagi masyarakat Surabaya yang telah ikut berpartisipasi menjadikan rujak cingur sebagai makanan khas tradisional Surabaya. Semoga rasa memiliki warga terhadap rujak cingur tidak pernah luntur," katanya.

Sebelum menetapkan pemenang, tim juri telah melakukan serangkaian proses penilaian sejak Februari 2013 yakni diawali dengan survei ke lapangan dan studi literatur.

Pada fase ini, tim penilai mencermati nama, bahan atau komposisi, resep, pengolahan, dan foto penyajian. Penjurian dilanjutkan dengan diskusi bersama narasumber tentang beberapa makanan tradisional yang dinominasikan.

Risma mengatakan bahwa Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia, Hardinsyah menetapkan rujak cingur sebagai pangan sepinggan tradisional khas Surabaya yang bila diolah dan disajikan secara baik dan benar dapat melengkapi pemenuhan gizi seimbang, meningkatkan pangan lokal dan ekonomi masyarakat, sehingga layak meraih penghargaan Peduli Gizi 2013.

Hardinsyah juga berharap agar penghargaan ini dapat turut mempromosikan rujak cingur di skala Nasional maupun Internasional. Dengan demikian, akan berdampak pada meningkatnya potensi ekonomi di Surabaya. (K-5/el)

Senin, 24 Juni 2013

Burung Goreng Muara Batun yang Ramai Pembeli

Minggu, 23 Juni 2013 - 02:10:14 WIB
Burung Goreng Muara Batun yang Ramai Pembeli
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Muara Batun) - Burung goreng yang merupakan menu kampung di Desa Muara Batun Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi sangat diminati pembeli yang datang dari berbagai daerah di Sumatera Selatan.

Romlah (52) pemilik rumah makan di Desa Muara Batun, Jumat, mengatakan telah mewarisi usaha neneknya berupa rumah makan yang menjual menu utama burung sejak sembilan tahun lalu.

Burung ditawarkan dengan dua cara memasak yaitu goreng dan pindang atau berkuah bening dengan beragam bumbu, katanya. Menurut dia, usaha tersebut mulai tahun 1978 yang diprakasai sang nenek. Sampai kini rumah makan itu masih bertahan dan semakin banyak tamu yang datang.

Ia mengatakan, setiap hari sedikitnya 800 ekor burung goreng dan pindang habis disantap pembeli. Biasanya, mereka datang berombongan dan dari berbagai daerah terutama Kayuagung dan Palembang.

Dia menjelaskan, pengolahan burung tersebut sangat sederhana direbus atau diungkap kemudian digoreng atau dipindang sesuai selera pembeli. Burung yang mereka jual tersebut, berupa burung punai, belibis dan burung jenis lainnya yang nikmat untuk dikonsumsi.

Romlah menambahkan, burung-burung tersebut mereka peroleh dari pemburu yang berada pada sejumlah wilayah di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir serta Banyuasin. Setiap hari sedikitnya 800 ekor burung mereka beli dan pada akhir pekan tak kurang dari 1.000 ekor terjual. Harga burung goreng dan pindang tersebut sangat terjangkau hanya Rp. 9.000 per ekor.

Biasanya pembeli yang datang menyantap di lokasi yang berada di pedesaan dan dikeliling sawah tersebut tidak cukup seekor burung minimal dua burung goreng. Iwan (40) penikmat burung goreng mengaku sengaja datang jauh-jauh dari Palembang menempuh jarak sekitar 40 kilometer untuk makan siang di rumah makan yang menawarkan menu utama burung itu.

Bukan hanya burung goreng dengan sambal nanas tumis yang membangkitkan selera makan tetapi suasana desa tentu menjadi daya tarik untuk berkunjung ke rumah maka di daerah yang akan menjadi lokasi pembangunan jalan tol Palembang-Kayuagung, katanya.

Dia menambahkan, di desa yang sangat dikenal restoran dengan menu burung tersebut terdapat sejumlah rumah makan sejenis. Setiap melintasi daerah yang kini menjadi jalan pintas menuju Palembang dari Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir tersebut menyempatkan bersama rombongan makan menu khas itu. (K-4/EIO)

Selasa, 18 Juni 2013

Sebanyak 30 Ikon Kuliner Siap Dipromosikan di Bali

Sabtu, 15 Juni 2013 - 04:59:42 WIB
Sebanyak 30 Ikon Kuliner Siap Dipromosikan di Bali
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Denpasar) - Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua, Bali, menggelar lokakarya 30 ikon kuliner tradisional Indonesia (IKTI) dalam rangka kegiatan "Coaching Clinic" Kuliner Nusantara. 

"Lokakarya tersebut bertujuan untuk menjadi ajang sosialisasi dan promosi terhadap 30 ikon kuliner nusantara mengingat perkembangan pariwisata Bali terus mengalami kemajuan," kata Pembantu Ketua I STP Nusa Dua Dr Wisnu Bawa Tarunajaya di Nusa Dua, Kabupaten Badung.

Selain itu, menurut dia, lokakarya juga bertujuan untuk mencari solusi agar proses pengolahan dan penyajian kuliner nusantara bisa lebih cepat dengan sistem penyajian yang menarik, karena biasanya proses dan pengolahan kuliner Indonesia memerlukan waktu lama sedangkan wisatawan ingin cepat bisa menikmati kuliner yang mereka pesan.

Acara tersebut dihadiri Agustin Mulyawati selaku Kasubdit Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Direktorat Pengembangan Wisata Minat Khusus Konvensi, Insentif dan Even Kemenparekraf, Kepala Dinas Pariwisata Bali Ida Bagus Kade Subikshu. Kegiatan itu menampilkan pembicara pakar kuliner nusantara William W Wongso.

Lokakarya tersebut melibatkan para akademisi, praktisi kuliner nusantara, kalangan industri pariwisata dan utusan dari sekolah pariwisata dan pengusaha bidang kuliner. Lokakarya tersebut berlangsung selama tiga hari, 11-13 Juni 2013 antara lain diisi dengan penyampaian materi, praktik persiapan, pengolahan dan presentasi 30 ikon kuliner nusantara.

"Kegiatan ini sebaiknya bisa memberikan informasi dan referensi bagi peserta dalam penggalian dan pengembangan kuliner tradisional," ujar Wisnu. Menurut dia, kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi STP Nusa Dua karena sejalan dengan program dari pusat kajian kuliner yang dimiliki STP Bali.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Bali Ida Bagus Kade Subikshu sangat mengapresiasi kegiatan lokakarya tersebut karena dapat memberi inspirasi dan pemahaman yang sama kepada peserta, serta merangsang gagasan kreatif peserta, nantinya diharapkan memberi kontribusi terhadap pariwisata.

Pihaknya juga mengapresiasi lembaga Pusat Kajian Kuliner yang didirikan STP Bali untuk mampu menggali kekayaan kuliner lokal Bali. "Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik setiap tahun ke Bali merupakan peluang besar untuk masuknya kuliner lokal Bali," ujarnya.

Sedangkan menurut pakar kuliner nusantara William W Wongso berharap 30 ikon kuliner nusantara tersebut mampu terus dipromosikan baik di dalam maupun luar negeri untuk pengembangan kuliner lokal dan menunjang pariwisata.

Pihaknya juga gencar mempromosikan ikon kuliner nusantara itu di luar negeri seperti Belanda, Jerman, Spanyol, Inggris, Mexico melalui kerja sama dengan departemen luar negeri untuk pengembangan kuliner nusantara.

Selain itu, William berharap STP Bali mampu mengembangkan sendiri masakan khas tradisional di Bali dan sekitarnya misalnya Lombok, Sumbawa dan Sulawesi. "Dengan ditetapkannya 30 ikon kuliner nusantara bisa menjadi panduan dan proyek percontohan untuk menggali dan menampilkan kekhasan kuliner masing-masing daerah," katanya.

Menurut dia, Wisatawan datang ke Bali tidak hanya menikmati keindahan alam, budaya atau lainnya tapi juga untuk mencari kuliner karena kuliner lokal harus digali dan dipromosikan kepada wisatawan. (K-4/EIO)

Minggu, 02 Juni 2013

Hidangan Kohu-kohu Urapnya Tanah Maluku

Minggu, 02 Juni 2013 - 04:48:12 WIB
Hidangan Kohu-kohu Urapnya Tanah Maluku
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Ambon) - Bagi masyarakat di wilayah Indonesia Timur, sagu dan singkong merupakan makanan pokok pengganti nasi. Maklum saja, karena beras agak sulit ditemukan di territorial ini dan kalau pun ada harganya juga lebih mahal ketimbang di wilayah Indonesia Barat. 
Kembali ke sagu dan singkong tadi ya. Apakah sagu itu dibuat papeda atau singkongnya direbus, itulah yang saya temui saat menapaki kota Ambon.

Ada makanan pokok, pasti ada lauk daging dan sayuran. Pulau Ambon terkenal dengan seafood segarnya, hal ini dikarenakan daerah Kepulauan Maluku dikelilingi oleh perairan yang kaya akan hasil lautnya. 

Lauk semacam ikan kuah kuning dan ikan asar lazim ditemui di kota Ambon. Uniknya, saya menemukan hidangan semacam sayur urap (di tanah Jawa) tapi dengan citarasa ikan asin yang kuat. Urap khas Maluku ini tenyata bernama kohu-kohu. 

Sejatinya kohu-kohu terbuat dari ikan teri basah atau nama lokalnya Puri . Proses membuat kohu-kohu mudah saja, ikan teri dicampur dengan kacang panjang rebus, tauge, terong dan kelapa sisik (parut). 

Campuran tadi diberi sedikit garam, perasan jeruk nipis, cabai, bawang merah dan bawang putih. Jadilah sudah kohu-kohu yang menyehatkan ini. Saat baru dibuat dan masih segar, kohu-kohu mantap banget kalau disantap bersama singkong rebus yang masih hangat mengepul. Rasanya itu lho…segar khas sayuran dan renyah krius…krius…

Mengacu pada sejarah kuliner Maluku yang diceritakan masyarakat lokal, hidangan kohu-kohu ini merupakan resep warisan penjajah Portugis. Malahan di Portugis sana ada hidangan yang identik dengan kohu-kohu, nama hidangannya petisie. 

Anda penasaran? Makanya jangan lewatkan hidangan ini saat berkunjung ke Ambon. Hidangan ini mudah untuk ditemukan kok, harganya juga murah hanya sekitar Rp. 7.000-10.000 saja untuk seporsi kohu-kohu. Makin mahal harganya, makin banyak campuran ikan terinya. Selamat bersantap! (K-4/Iyo)

Kamis, 30 Mei 2013

Tanggal 7 Juni, Dunkin' Donuts Tawarkan Donat Gratis di Seluruh Dunia

Kamis, 30 Mei 2013 - 11:43:47 WIB
Tanggal 7 Juni, Dunkin' Donuts Tawarkan Donat Gratis di Seluruh Dunia 
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Jakarta) - Dunkin' Donuts, salah satu perusahaan makanan dan kopi dunia terkemuka, hari ini mengumumkan penawaran menarik bagi para pecinta donat di seluruh dunia. 

Pada hari Jumat, 7 Juni, sejumlah gerai Dunkin' Donat tertentu akan memberikan penawaran satu donat gratis pilihan mereka (selama persediaan masih ada) dengan pembelian minuman apapun.

Dengan penawaran istimewa yang tersedia bagi para pengunjung Dunkin' Donats di 31 negara di seluruh dunia ini, menandakan sebuah perayaan yang digelar oleh merek donat pertama di dunia ini. 

Menurut John Costello, Presiden Pemasaran dan Inovasi Global Dunkin' Brands, produk ini ingin mengetahui dan merasakan kesenangan dan kebahagiaan yng dibawa oleh donat bagi orang di seluruh penjuru dunia tiap harinya. 

"Dengan warisan kami yang kaya sebagai salah satu pemimpin di dalam industri donat, kami tahu bahwa donat mampu membawa kebahagiaan kepada para pengunjung kami. Kami senang dapat membuat hal ini menjadi lebih mudah dan terjangkau bagi para pengunjung kami di seluruh dunia untuk dapat merayakan hari donat pada tanggal 7 Juni dengan dapat menikmati satu donat gratis dengan pembelian minuman apa saja," ungkapnya.

Selama lebih dari 60 tahun, Dunkin' Donuts telah menjadi pemimpin dalam industri donat, dan pada tahun lalu perusahaan ini berhasil menjual 2,4 miliar donat dan suguhan lubang donat MUNCHKINS di 31 negara di seluruh dunia. 

Dunkin' Donuts menawarkan banyak ragam donat yang kreatif dan lezat, seperti BOston Kreme, Glazed, dan Chocolate Frosted. 

Tentang Dunkin' Donuts Dunkin' Donuts, yang didirikan pada tahun 1950, merupakan restaurant favorit harian rakyat Amerika yang menyajikan kopi dan sajian roti. 

Dunkin' Donuts merupakan perusahaan pemimpin dalam kategori donat, bagel, muffin, kopi reguler atau bebas kafein dan rasa, serta es kopi. Dunkin' Donuts berhasil meraih peringkat pertama untuk loyalitas pelanggan pada kategori kopi yang dirangkum oleh Brand Keys selama tujuh tahun berturut-turut. 

Dunkin' Donuts memiliki lebih dari 10.500 restoran di 31 negara seluruh dunia. Untuk tahun anggaran 2012, seluruh restoran Dunkin' Donuts waralaba mencatat penjualan sekitar 6,9 miliar dolar. Dunkin' Donuts, yang berpusat di Canton, Massachussets., merupakan bagian dari Dunkin' Brands Group, Inc. (K-5/el)

Selasa, 28 Mei 2013

Inilah Kuliner Warisan Kolonial Khas Banda

Minggu, 26 Mei 2013 - 08:16:11 WIB
Inilah Kuliner Warisan Kolonial Khas Banda
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 



Komhukum (Maluku) - Bagi siapa saja yang pernah berkunjung ke wilayah Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku pasti pernah dimanjakan oleh panorama indah dan kelezatan kulinernya.

Sama halnya saat saya berkunjung ke kota Bandaneira yang terletak di Pulau Naira, saya pun dimanjakan oleh kedua hal yang sama tersebut.

Belajar dari pengalaman kuliner saya, yang menjadi signature dish (hidangan khas) Kepulauan Banda ini bukan hanya olahan papeda (olahan berbahan sagu) tapi lebih kepada lauk pelengkapnya. Pilihan saya jatuh kepada hidangan legendaris Bandaneira yakni ikan kuah pala.

Hidangan berbahan ikan segar dengan bumbu rempah kuat ini merupakan warisan kuliner jaman penjajahan Belanda. Kuliner ikan kuah pala ini juga punya kaitan erat dengan sejarah Kepulauan Banda lho. Kok bisa? 
 
Sembari menikmati hidangan ikan kuah pala, saya bertanya kepada si tukang masak perihal asal usul hidangan ini. Dengan antusias si tukang masak ini bercerita bahwa pada abad ke-19 wilayah Banda di Kabupaten Maluku Tengah ini adalah satu-satunya penghasil rempah pala dan fuli untuk Indonesia.

Mengetahui wilayah ini kaya akan rempah-rempah, penjajah Belanda membawa serta organisasi perdagangannya yang populer saat itu, yakni VOC. Maka berdirilah markas VOC di wilayah Banda saat abad ke-19 itu. VOC mengincar rempah khas Banda (rempah pala) untuk dibawa ke Eropa. Bahkan saat itu rempah pala bernilai lebih dari emas, cerita si tukang masak.

Karena, wilayah timur NKRI kaya akan potensi laut berupa perikanan, masyarakat setempat menggabungkan  dua kekayaan khas Maluku Tengah ini (pala dan ikan laut) dalam sebuah hidangan khas bernama ikan kuah pala. Ikan kuah pala saat itu disajikan hanya kepada petinggi penjajah Belanda dan para bos-bos VOC, tutup cerita si tukang masak tersebut. Bukan main gumam saya dalam hati!

Ikan yang digunakan dalam sajian ikan kuah pala ini haruslah ikan laut segar, namun untuk sekarang ini ikan kerapu dan kakap merah adalah pilihan yang lazim diolah. Hidangan sop ikan bercitarasa asam pedas ini sepintas mirip sajian kuah asam khas Sulawesi Utara.

Bisa jadi karena letak geografis Maluku dan Sulawesi yang berdekatan, maka timbul persamaan cara masak hanya beda penggunaan rempah saja. Pakemnya menikmati sop ikan kuah pala ini adalah dengan papeda, tapi bila disantap dengan nasi pun tidak ada salahnya.

Sebagai pelengkapnya, saya memesan hidangan kuah pala ini dengan tumisan sayur daun pepaya dan sambal bakasang. Bakasang (khas Minahasa) adalah hasil fermentasi jerohan ikan cakalang yang digarami dan direndam perasan air jeruk lemon cui selama beberapa hari. 
 
Sedangkan ulang- ulang adalah campuran sayur segar yang terdiri dari kangkung, kacang panjang, tauge, terong, wortel dan mentimun yang dicampur dengan bumbu terasi, cabai ulek, kenari tumbuk, dibumbui sedikit air jeruk limau dan garam. Wah…benar-benar kaya rasa!

Makanya saat berkunjung ke Kepulauan Banda di wilayah Maluku Tengah mampir saja ke sembarang kedai makanan khas setempat. Dijamin anda bakal menemukan sop ikan kuah pala yang nikmat ini.

Harganya relatif murah, seporsi ikan kuah pala yang  berisi satu ikan ukuran sedang berharga Rp 25.000-40.000 (tergantung ukuran ikannya) termasuk papeda atau nasi putih. Seporsinya lumayan besar, bisa untuk makan 3 orang. Untuk lauk pendampingnya berkisar Rp. 6.000-15.000 per porsi. Penasaran? Saya saja sampai ketagihan! (K-4/Iyo)

Ikan Asar Seng Ada Lawang Nikmatnya

Sabtu, 25 Mei 2013 - 05:52:18 WIB
Ikan Asar Seng Ada Lawang Nikmatnya
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Ambon) - Semua orang pasti setuju kalau Provinsi Maluku kaya akan keindahan panorama alam dan ragam kulinernya. Hal ini berlaku untuk mereka yang pernah ke sana atau yang berasal dari Maluku sekalipun. Semacam saya yang hanya sejenak menginjak kota Ambon. Satu hal yang saya cari saat berkunjung ke wilayah timur Indonesia adalah makanan khas daerah setempat.

Provinsi yang terdiri dari gugusan beberapa pulau besar dan kecil ini pastinya memiliki kuliner makanan laut yang super nikmat. Terlebih lagi sekeliling Provinsi Maluku adalah perairan yang kaya akan sumber daya perikanan. Namun yang menarik minat saya bukanlah papeda yang ramai digembar-gemborkan orang di luar Maluku. 

Ikan laut...itu yang saya cari! Ikan yang berukuran besar dan segar-segar adalah barang langka bagi saya yang keseringan hidup di Pulau Jawa. Macam ikan tongkol, ikan tuna, dan ikan marlin...kalau di Ambon ini selesai ikan ditangkap, bawa ke darat, langsung dimasak dan nikmati selagi baru matang...nikmatnya tak terlupakan!

Saat di kota Ambon, saya tidak mempedulikan kedai atau warung mana yang menyajikan ikan bakar...semua sama enak nya dengan ikan yang sama segarnya. Ikan sebesar betis orang dewasa sih hal biasa di Maluku. Yang rutin saya nikmati adalah ikan asar, atau bahasa lazimnya ikan asap (asar = asap). Bermacam-macam ikan laut segar di wilayah Maluku banyak diawetkan dengan diasap. 

Apakah ikan tongkol, ikan marlin, ikan tuna, semua biasa diasap. Ikan yang sudah diasap biasanya dijual per ekor, dengan wujud sudah terbelah dua memanjang ditusukkan pada sebatang sujen (tusuk sate berukuran besar) di tengahnya. Ikan asap berwarna coklat merah dengan rona kehitaman ini dijual seharga Rp. 20.000-50.000 seekornya dengan ukuran sedang, harga tersebut berlaku untuk berbagai jenis ikan yang sudah diasap. 

Saya menemukan penjual ikan asar ini di kota Ambon persisnya di Pasar Mardika. Katanya kalau beli di Pasar Galala mahal karena itu daerah turis. Sejenak saya berbincang dengan si penjual ikan asar ini. Si nyong Ambon tulen ini bilang kalau membuat ikan asar ini butuh waktu lama, sekitar 8-10 jam untuk mengasapinya di atas panggangan ikan. 

Setelah ikan dibersihkan dan dilumuri perasan jeruk limau/lemon cui, ikan langsung diasap. Biasanya ikan diasap pada malam hari, jadi pada pagi harinya bisa dijajakan di pasar. Ada juga yang menambahkan bumbu tertentu saat mengasapi ikannya. Sialnya saat saya tanya bumbu apa yang ditambahkan, si nyong satu ini tidak mau cerita...ya sudahlah saya tidak mau memaksa. 

Ada yang unik saat mengasapi ikan ini. Si pembuatnya harus berkata “Asar akang di atas para-para” saat mulai mengasapi supaya hasilnya baik. Artinya kira-kira mengasapi ikan di atas panggangan. Tapi ikan tidak boleh kena bara api ya, cukup asapnya saja sudah cukup.

Pengalaman saya makan ikan asar di kota Ambon adalah diolah menjadi ikan kuah kuning atau disantap begitu saja dengan sambal colo-colo juga bikin ketagihan. Sepintas ikan asar ini pembuatan dan rasanya mirip ikan cakalang fufu dari Sulawesi Utara. 

Kalau pun anda ke Ambon dan ingin bawa oleh-oleh, bawalah ikan asar ini. Halal, nikmat, sehat, harganya terjangkau pula. Setelah diasap, ikan bisa tahan seminggu dalam suhu ruangan (asal jangan lembab) dan sebulan bila disimpan dalam kulkas. Penasaran? Beneran seng ada lawang nikmatnya tuh ikang asar! (K-4/Iyo)

Jumat, 17 Mei 2013

Memburu Pajangan Makanan 1/2 Matang di Cikini

Kamis, 16 Mei 2013 - 13:16:20 WIB
Memburu Pajangan Makanan 1/2 Matang di Cikini
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Jakarta) - Mengeliling kota Jakarta selalu meninggalkan jejak-jejak kisah untuk diceritakan.

Hiruk pikuknya jalanan yang dipadati oleh berbagai kendaraan sebagai moda angkutan menambah maraknya kehidupan metropolitan ini.

Di samping itu mobilitas kerja yang tinggi dalam diri persona penghuni kota ini menjadi Jakarta disamakan dengan gebyarannya hiruk-pikuk masyarakat kota Sakura Jepang.

Selain potret-potret kehidupan jalanan di atas, Jakarta juga merupakan tempat dengan berbagai usaha kuliner mulai dari jenis makanan maupun cara penyajiannya.

Malam ini, saya berusaha menjajaki Jakarta khusus untuk menikmati aksi para penjual malam dalam menjajakan makanannya.

Lokasi awal petulangan ini dimulai dari daerah Menteng. Di daerah ini, khususnya sepanjang jalan dari stasiun Gondang Dia sampai jalan Wahid Hasyim terpampang berbagai tenda jualan makanan di atas trotoar.


(Salah Satu warung di jln. Wahid Hasyim)
Banyaknya pengunjung yang datang baik seorang diri, berpasangan maupun dengan keluarga-keluarganya membuat saya sangat sulit untuk melihat aksi para penjaja kuliner malam ini. Butuh banyak waktu untuk antri agar dapat menikmati makanan sepanjang jalanan ini.

Akhirnya dengan kondisi lapar saya pun memutuskan menuju daerah Cikini. Sebab bagi penghuni Jakarta punya keyakinan apabila dalam kondisi lapar maka datanglah ke Cikini. Hal ini karena mencari tempat makan di daerah Cikini bukanlah hal yang sulit sebab daerah ini adalah surga makanan bagi para pecinta kuliner.

Berjalan dari Menteng menuju Cikini memang membutuhkan waktu yang lama di malam hari sekitar pukul 18.00 - 20. 00 WIB karena saat itu jalanan dipadati dengan kendaraan dan kemacetan menjadi fenomena basi yang selalu dan hampir selalu terjadi.


Namun setelah berlahan menyusuri jalanan berpadat kendaraan ini sampailah saya di daerah paling ujung Cikini tepatnya di sebuah rumah makan unik bernama "Ampera 2 – Tak"

Tanpa banyak berbasa-basi, saya pun langsung menerobos masuk ke dalam rumah makan yang terlihat sederhana tetapi menarik dari nama yang terpampang.

Rumah makan ini menyajikan makanan khas Sunda. Lebih uniknya lagi makanan-makanan yang di taruh di meja penyajian untuk dipesan dalam kondisi setengah matang. Makanan-makan itu ditaruh dalam meja panjang di serambinya.

Apabila pelanggan datang maka mereka hanya mengambil yang diinginkan lalu para pelayan akan membawa ke dapur dan ditulis sesuai nomor meja. Para pelanggan hanya menunggu sebentar sambil menikmati suasana rumah makan dan menonton program acara televisi, kemudian viola makanan sudah tiba dengan segar dan matang.


(Makana Setengah Matang Disajikan)
Rumah makan ini juga unik karena buka selama 24 jam tetapi tidak menyajikan makanan restoran cepat saji.

Hari itu sudah pukul 10 malam tapi rumah makan tidak kunjung sepi, semakin malam justru semakin ramai dengan pengunjung. Mereka mengantri dengan tertib dan mengambil menu favoritnya.

Soal rasa tidak dapat dipungkiri saat menggigit ikan beserta sambalnya akan dirasakan nikmat pedas dan segar. Belum lagi bila mencicipi sayur asem yang disajikan dengan suhu panas, sungguh sangat menggoda selera.

Bagi anda yang pulang larut dan dalam keadaan lapar, bila melewati area Cikini, jangan lupa mampir ke Rumah Makan Ampera 2 – Tak. Tidak lengkap rasanya bila para pecinta kuliner juga tidak datang dan menikmati makanan di rumah ini. (K-5/El)

Sabtu, 04 Mei 2013

Sate Buntel Solo Setusuk Saja Tak Akan Cukup

Sabtu, 04 Mei 2013 - 06:38:53 WIB
Sate Buntel Solo Setusuk Saja Tak Akan Cukup
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Solo) - Satu hal yang menarik saat berkunjung ke berbagai daerah di nusantara adalah kebudayaannya yang beraneka ragam. Apalagi kebudayaan yang terkait dengan urusan lidah alias budaya kuliner, siapa yang tidak doyan coba?

Semacam saat berkunjung ke kota Solo, Provinsi Jawa Tengah, saya mencicipi sate buntel yang sangat unik namun super lezat! Saat menyantap sate buntel, jangan berharap anda akan dihidangkan seporsi sate kambing berisi 10 tusuk plus lontong atau nasi. Sate buntel ini dijual secara ketengan per tusuknya. 

Maklum saja, sate buntel ini ukurannya ekstra gede dibanding sate kambing ala Madura. Perbandingannya satu tusuk sate buntel, isi daging dan lemaknya setara dengan 10 tusuk sate kambing biasa. Sate buntel banyak dijajakan di kota batik ini. Saya pun mampir di sebuah kedai sate kambing di daerah Lojiwetan.

Penasaran, saya pun memesan 3 tusuk sate buntel. Mengintip ke dapur pembuatannya, sate buntel ini ternyata dibuat dari daging kambing cincang yang dicampur dengan berbagai bumbu/rempah-rempah. Sang juru masak mengambil segenggam olahan daging kambing cincang tadi dan membungkusnya dengan lemak kambing yang berbentuk lembaran. 

Bongkahan daging dan lemak ini pun ditusukkan pada sebatang sujen/tusuk sate berukuran tebal dan dibakar seperti sate biasa pada umumnya. Sembari menunggu sate buntel pesanan saya dibakar, saya pun ngobrol santai dengan pelayan kedai sate ini. 

Si pelayan bercerita kalau pada zaman orde baru dulu, sate buntel adalah hidangan kesukaan mantan Presiden Soeharto. Bahkan masyarakat kota Solo sangat bangga dengan kuliner sate buntelnya, sama seperti mereka membanggakan serabi Solo yang legit itu. Tak terasa, sate buntel pesanan saya akhirnya tiba di meja. Saya memesan 3 tusuk sate buntel plus sepiring nasi dan es teh manis. 

Setelah mencuci tangan dan mengucapkan doa, saya pun mulai menyantap sate buntel yang legendaris ini. Rasa khas sate kambing dibungkus lemak yang dibakar ini...hmmm...mantap banget deh! Saya bingung mau membandingkan dengan apa rasa sate buntel ini. Daging kambing yang empuk bercampur rempah-rempah dan lemak yang mencair memang tiada tandingannya. 

Dagingnya empuk, tapi tidak bau prengus (kambing). Dihidangkan dengan pilihan bumbu kecap atau bumbu kacang, sama enaknya. Saya memilih bumbu kecap yang merupakan “pasangan sejati” hidangan sate kambing. Pelengkapnya adalah potongan tomat, bawang merah dan cabe rawit. Masih kurang pedas? Tambahkan saja sambal yang terbuat dari ulekan cabai rawit, pedasnya dijamin menggigit di lidah!

Puas menikmati sate buntel ini, saya hanya merogoh kocek Rp 11.000 saja untuk per tusuk sate buntel ditambah Rp 3.000 untuk nasi putih dan Rp 2.500 untuk es teh manis. Kenyang dan puas, itu pasti. Namun buat mereka yang rentan pada kolesterol, sebaiknya menghindari hidangan berlemak nan nikmat ini. (K-4/Iyo)

Jumat, 03 Mei 2013

Nasi Jamblang Bangkitkan Selera Dubes AS

Senin, 29 April 2013 - 19:52:17 WIB
Nasi Jamblang Bangkitkan Selera Dubes AS
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Cirebon) - Duta Besar Amerika Serikat, Scot Marciel mencicipi nasi Jamblang makanan khas Cirebon, Jawa Barat, saat bekunjung ke keraton Kasepuhan Cirebon.

Wati, salah seorang pelayan nasi Jamblang menuturkan, Duta Besar Amerika Serikat, Scot Marciel mengambil sambal cabai merah iris dan aneka makanan nasi Jamblang khas Cirebon.

"Dubes AS dengan mencicipi berbagai olahan makanan khas nasi Jamblang, seperti tempe dan tahu goreng, ati ampela," katanya.

Sementara itu Andrean, salah seorang rombongan Duta Besar Amerika Serikat menambahkan, makanan khas nasi Jamblang memiliki citra rasa istimewa meski disajikan sederhana dengan bungkus daun jati.

Menurut dia, makanan tradisional asal Indonesia sangat diminati oleh Duta Besar Amerika Serikat, Scot Marciel Scot Marciel, selain nasi Jamblang, empal gentong sempat dicicipi.

Rombongan Duta Besar Amerika Serikat, Scot Marciel mencicipi nasi Jamblang dan empal gentong tersebut di Ruang Adipura Balai Kota Cirebon. (K-2/yan)

Kamis, 11 April 2013

Kopi Spesial Indonesia Tak Bisa Diklaim Orang Lain

Kamis, 11 April 2013 - 15:40:12 WIB
Kopi Spesial Indonesia Tak Bisa Diklaim Orang Lain
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Jakarta) - Indonesia menghasilkan beragam jenis kopi, termasuk kopi spesial (specialty coffee) yang punya ciri khas rasa dan aroma yang ditentukan lingkungan tumbuhnya.

Keunikan ini, membuat kopi spesial bisa jadi sumber daya alam yang tidak bisa diklaim negara lain, kata Dr. Ir. Ade Wachjar M.Sc. di Jakarta, Kamis (11/04).

"Tidak usah khawatir specialty kopi diklaim negara lain karena rasanya tergantung letak geografis. Kopi Gayo (asal Aceh) kalau dikembangkan di Pengalengan Jawa Barat, rasanya akan berbeda," kata akademisi dari Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Untuk menghasilkan rasa khas, kopi harus tumbuh dalam situasi iklim tertentu sehingga letak geografis menjadi faktor krusial dalam penanaman kopi.

Beberapa daerah penghasil kopi spesial arabica di Indonesia adalah Sumatera Utara (kopi Mandailing dan Lintong), Aceh (kopi Gayo), Jawa Timur, Bali (kopi Kintamani), Sulawesi Selatan (Toraja-Kalosi), Nusa Tenggara Timur (Flores-Bajawa), dan Papua (kopi Baliem). (K-4/EIO)

Putih Telur Dapat Turunkan Tekanan Darah

Rabu, 10 April 2013 - 15:35:28 WIB
Putih Telur Dapat Turunkan Tekanan Darah 
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Washington) - Para ilmuwan menawarkan bukti baru, Selasa (9/03), mengenai komponen di dalam putih telur yang sudah dikenal sebagai bagian yang sehat konsumen khawatir pada kolesterol di bagian kuningnya mempunyai manfaat menguntungkan lain yaitu menurunkan tekanan darah.

Hasil studi itu merupakan bagian dari pertemuan nasional dan eksposisi ke-245 Asosiasi Kimia Amerika (ACS), perkumpulan ilmuwan terbesar di dunia, yang masih berlangsung di New Orleans hingga Kamis.

"Penelitian kami menawarkan kemungkinan ada alasan lagi mengapa kita menyebut 'telur adalah makanan luar biasa'," kata kepala peneliti Zhipeng Yu dari universitas Jilin, China.

"Kami mempunyai bukti laboratorium bahwa bagian dari putih telur, peptida salah satu pembentuk protein, dapat menurunkan tekanan darah sedikitnya sama dengan dosis captopril, obat tekanan darah tinggi," katanya.

Yu dan kawan-kawannya menggunakan peptida yang disebut RVPSL dan mendapati bahwa bagian tersebut mempunyai daya untuk menghadang langkah ACE, suatu zat di dalam tubuh yang dapat meningkatkan tekanan darah.

Percobaan yang dilakukan terhadap tikus menunjukkan bahwa RVPSL tidak memiliki dampak beracun dan menurunkan tekanan darah dalam jumlah yang setara dengan kemampuan obat captorpril.

Yu yakin bahwa peptida putih telur apakah dalam bagian telur atau dalam bentuk suplemen, dapat bermanfaat untuk mengobati tekanan darah tinggi.

Temuan mengenai manfaat putih telur dan tekanan darah tinggi itu meningkatkan pamor akan telur sebagai makanan kaya nutrisi.

Setelah sempat dikelompokkan sebagai makanan yang harus dihindari, penelitian beberapa tahun ini menyimpulkan bahwa banyak orang bisa mengonsumsi telur tanpa membuat kadar kolesterol dalam darah meningkat, keuntungan dari makanan yang tidak mahal, rendah kalori serta kaya protein, vitamin dan nutrisi. (K-5/el)

Selasa, 09 April 2013

Sepiring Kelezatan Nasi Kebuli di Seputaran Tebet

Senin, 08 April 2013 - 14:19:19 WIB
Sepiring Kelezatan Nasi Kebuli di Seputaran Tebet
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Jakarta) - Bagi warga ibukota yang sering melintasi daerah Tebet, Jakarta Selatan saat berangkat dan pulang kerja pastilah seringkali mencari “jalan tikus” untuk menghindari kemacetan di jam-jam tersebut. 

Salah satu jalan yang cukup terkenal di kawasan ini adalah jalan Asem Baris Raya yang membentang sejajar dengan real KA Jakarta Bogor, khususnya ruas Stasiun Tebet sampai dengan Stasiun Cawang. Di jalan yang panjangnya sekitar 2,5 km ini terdapat banyak sekali kedai dan rumah makan dengan aneka macam hidangan khas.

Salah satu yang menjadi favorite saya adalah Nasi Kebuli Hj. Zaitun! Kedai nasi kebuli yang boleh dibilang kecil ini (karena hanya cukup menampung 10 orang saja tempat makannya) tidak kalah pamor dengan rumah makan nasi kebuli lain yang sudah duluan eksis di seputaran ibukota. Hal ini terbukti dari banyaknya penikmat nasi kebuli yang rutin mampir di kedai ini. 

Walaupun tempatnya sempit, kebanyakan konsumen kedai nasi kebuli ini membungkus pesanannya karna mereka hanya numpang lewat. Sayangnya kedai ini terletak di jalan yang hanya pas 2 jalur mobil saja, jadi kalau mau parkir agak susah ya.

Kedai yang terletak di jalan Asem Baris Raya No. 165 ini menawarkan menu andalannya berupa nasi kebuli dengan rasa yang unik. Nasi kebuli hasil olahan ibu Hj. Zaitun ini memiliki rasa yang super lezat dengan porsi yang lumayan besar juga. Rasa lezat ini adalah hasil penggunaan berbagai bumbu-bumbu khas timur tengah yang diramu secara proporsional. Lauk pelengkapnya juga lumayan lengkap. 

Mulai dari empal, perkedel, gulai kambing aatu ayam, sampai dengan berbagai jenis kerupuk bisa kita tambahkan sebagai pelengkap. Satu hal lagi, semua hidangan di tempat ini dijamin halal dengan harga yang terjangkau kok. Makanya kalau pembaca www.komhukum.com kebetulan sedang terjebak macet di daerah ini, cobalah mampir ke kedai Nasi Kebuli Hj. Zaitun untuk sekedar memanjakan lidah. (K-4/Iyo)

Minggu, 07 April 2013

Si Gurih Nikmat Kue Pancong Ala Batavia

Minggu, 07 April 2013 - 03:05:42 WIB
Si Gurih Nikmat Kue Pancong Ala Batavia
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Jakarta) - Apakah anda termasuk penggila kuliner khas Batavia khususnya yang berjenis kue basah?

Pastinya anda sudah akrab dengan Kue Pancong donk. Kue basah berbahan kelapa parut ini banyak dijajakan secara hangat alias made by order dengan toppingnya berupa taburan gula pasir.

Rasanya yang gurih dengan ‘kerenyahan” kelapa parutnya plus semburat rasa manis dari taburan gula pasir seolah memanjakan lidah kita dan si penikmatnya akan berkata: minta lagi, satu tidak pernah cukup!

Nyatanya kue Pancong tidak dijajakan di seputaran ibukota saja, namun juga di beberapa daerah lain. Malahan masing-masing daerah ini punya sebutan tersendiri untuk si gurih kue Pancong.

Daerah Jawa Barat khususnya kota Bandung menyebutnya dengan kue Bandros. Di Jawa Tengah kue Pancong lebih populer dengan nama kue Gandos. Bergeser lagi ke Jawa Timur, ada yang menyebutnya dengan kue Rangin (bukan kue Rangi pastinya) dan juga kue Tratak.

Menyeberang keluar pulau Jawa, di pulau Bali kue ini terkenal dengan sebutan kue Daluman. Ya apapun sebutannya, kue Pancong lah yang paling banyak dikenal.

Kue yang biasa dijual dalam bentuk deretan setengah lingkaran ini banyak dijual di pusat-pusat keramaian ibukota, khususnya tempat wisata atau belanja yang sudah ada sejak dulu kala.

Sebut saja kawasan Pasar Baru dan area Kota Tua Batavia. Di kedua daerah ini kita akan dengan mudah menemukan pedagang kue Pancong. Tapi sayangnya kue ini juga sulit ditemukan saat musim-musim tertentu. Lalu bagaimana kalau kita lagi ngidam kue Pancong?

Solusinya: buat kue Pancong sendiri donk! Nah buat yang ingin mencoba, ini ada resep kue Pancong yang bisa dipraktekkan di dapur sendiri. Selamat mencoba, semoga berhasil, dan selamat menikmati.

Resep Kue Pancong:

  • Kelapa yang agak muda 500 gram parut memanjang.
  • Tepung beras 500 gram.
  • Santan 1500 ml.
  • Gula pasir secukupnya untuk taburan.
  • Garam  2 sendok kecil.
  • Minyak sayur secukupnya untuk olesan.

Cara Membuat Kue Pancong:
  1. Siapkan wadah campurkan beberapa bahan ini: tepung beras, parutan kelapa dan garam.
  2. Masukan santan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga rata.
  3. Siapkan cetakan dan panaskan, kemudian olesi dengan minyak sayur.
  4. Tuangkan adonan kedalam cetakan tersebut kemudian tutup.
  5. Jika sudah matang, angkat dan taburi dengan gula pasir diatasnya. (K-4/Iyo)

Es Kuwut Yang Kaya Manfaat

Jumat, 05 April 2013 - 14:18:43 WIB
Es Kuwut Yang Kaya Manfaat
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Jakarta) - Aslinya Es Kuwut ini berasal dari Pulau Dewata (Pulau Bali), namun belakangan banyak dijual di beberapa kota besar di Pulau Jawa. Saat berkunjung ke kota Semarang, kota Bandung, dan kota Serang – Jawa Barat, saya menemukan Es Kuwut ini dijajakan juga walau tidak terlalu mirip aslinya.

Saat bertemu minuman jenis ini di Semarang, saya pun ngiler dibuatnya! Melihat penampilannya yang mirip minuman ala hotel bintang lima, saya ngeper juga dalam hati,” pasti harganya mahal”. Setelah bertanya kepada si penjual, lha ternyata harganya cuma gocengan alias lima ribu rupiah saja. 

Penasaran seperti apa, saya pun tidak ragu-ragu untuk mencobanya, malah kebablasan sampai minum 2 gelas. Tidak masalah kok, karena Es Kuwut tidak hanya menyegarkan tapi juga menyehatkan. 

Betewe gimana kalau kita coba bikin sendiri Es Kuwut yang menyegarkan ini. Seperti apa isinya? Kerukan daging kelapa muda, potongan buah melon segar, biji selasih (basil seed), dan perasan jeruk nipis. Satukan semua bahan ini di dalam gelas besar atau tinggi, terakhir guyurlah dengan air kelapa muda yang baru saja dipotong dan beri sedikit es batu (diserut lebih baik). Tapi…sssttt, jangan lupakan pemanisnya ya. Pemanis terbaik untuk Es Kuwut tentu saja bahan alami berupa gula aren yang dicairkan. Alamak…nikmatnya minum Es Kuwut di siang bolong terik seperti ini! 

Tadi sudah disampaikan bahwa Es Kuwut tidak hanya menyegarkan, tapi juga menyehatkan. Kenapa bisa begitu? Seperti diketahui, air kelapa dapat bermanfaat membuang racun dari dalam tubuh (detox). Jeruk nipis mengandung vitamin C tinggi, selasih bisa mengobati sakit perut dan maslah pernapasan, dan buah melon kaya akan serat untuk memperlancar system pencernaan tubuh. Ini baru minuman top…enak, segar, dan menyehatkan pula! (K-5/Iyo)

Senin, 01 April 2013

Kuliner Gangan Anti Santa Ala Pulau Belitung

Senin, 01 April 2013 - 12:35:50 WIB
Kuliner Gangan Anti Santa Ala Pulau Belitung
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Jakarta) - Sebagai seorang penikmat hidangan laut atau seafood, adalah wajib hukumnya bagi saya untuk mencicipi berbagai jenis hidangan yang “asing” bagi lidah saya. Asing maksudnya belum pernah saya cicipi. Nah berbagai jenis sop ikan adalah favorit saya. Saat berkunjung ke Pulau Belitung, saya menemukan suatu hidangan sop ikan yang boleh dibilang agak sophisticated.

Masyarakat Pulau Belitung menyebut hidangan ini dengan nama Gangan (bukan Gangnam ya). Ya namanya sop ikan lazimnya terdiri atas kuah, sayuran pengisi, dan daging/potongan ikan tentunya. 

Sepintas masakan Gangan ikan ini terlihat seperti gulai ikan pada umumnya yang menjadi ciri khas masakan Melayu dan kaya akan penggunaan santan. Begitu saya cicipi Gangan ikan khas Belitung ini...lho kok gak ada rasa santannya ya? Penasaran pastinya, saya pun mendatangi juru masaknya.

Sang juru masak Gangan memberitahukan saya kalau kuliner ini memang tidak menggunakan santan. Kuah kuning pada hidangan ini merupakan campuran beberapa rempah-rempah dengan kunyit sebagai bahan dominannya dan irisan nanas muda beserta cabai rawit ikut dicampurkan. 

Tapi hebat nian pencipta hidangan ini, karena rasa gurih pedas asamnya bisa menggoda lidah siapa saja yang mencicipinya. Kebetulan saya memilih ikan kakap merah sebagai bahan utama daging ikannya, ya jadilah olahan ikan kakap dengan rasa yang unik.

Masih dari juru masak yang sama, saya dijelaskan kalau segala macam hewan hasil laut bisa diolah secara Gangan. Apakah itu ikan, kepiting, udang, maupun cumi-cumi sekalipun semua bisa dimasak menjadi hidangan Gangan. 

Konon hidangan Gangan yang menjadi signature dish Pulau Belitung adalah Gangan yang berbahan dasar hewan pelanduk (sejenis Kancil yang dulunya banyak terdapat di tempat ini). Wah...saya tidak dapat membayangkan rasa daging kancil diolah ala Gangan! 

Satu hal penting lainnya yang wajib dipenuhi adalah setiap bahan daging untuk olahan Gangan wajib bermutu terbaik/masih segar! Semakin fresh seafoodnya, semakin segar pula rasa Gangannya. Jadi jangan sampai melewatkan kuliner Gangan saat berkunjung ke Pulau Belitung ya. Dari penjaja seafood kelas warungan sampai kelas resto sekalipun pasti menyediakan hidangan Gangan ini. (K-5/Iyo)

Festival Jajanan Bango Hadirkan Kuliner Nusantara

Minggu, 31 Maret 2013 - 20:08:11 WIB
Festival Jajanan Bango Hadirkan Kuliner Nusantara 
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner 


Komhukum (Semarang) - Ribuan orang memadati Festival Jajanan Bango tahun 2013 di Stadion Diponegoro Semarang, Minggu (31/03) untuk mencicipi berbagai hidangan yang disajikan dalam festival kuliner tersebut.

Sebanyak 54 sajian kuliner dari berbagai daerah dalam festival kuliner untuk merayakan Hari Ulang Tahun Ke-85 Bango itu disambut antusias oleh masyarakat Kota Semarang, khususnya para penggemar kuliner.

Hampir di seluruh stan kuliner yang dihadirkan dalam festival itu terlihat antrian masyarakat yang ingin membeli makanan favoritnya. Bahkan di sejumlah stan kuliner tampak antrian pembeli yang relatif cukup panjang.

Menurut Senior Brand Manager Bango Marieska Widhiana, Kota Semarang merupakan kota keempat pelaksanaan Festival Jajanan Bango tahun 2013 setelah sukses digelar di tiga kota, yakni Bandung, Surabaya, dan Malang.

"Semarang dipilih karena merupakan salah satu kota yang memiliki potensi kuliner tradisional. Terbukti, ada salah satu dari 10 legenda kuliner Nusantara berasal dari Semarang, yakni 

Festival Jajanan Bango Hadirkan Kuliner Nusantara  ," katanya.

Ia menjelaskan bahwa Festival Jajanan Bango merupakan perhelatan kuliner yang diadakan setiap tahun sejak 2005 sebagai wujud konsistensi misi sosial Bango untuk melestarikan berbagai jenis makanan tradisional.

Menurut dia, makanan tradisional merupakan salah satu bentuk warisan Nusantara yang harus dijaga keberadaannya, salah satunya dengan menghadirkannya kepada masyarakat yang berperan dalam upaya pelestariannya.

"Dari pelaksanaan sebelumnya di tiga kota, yakni Bandung, Surabaya, dan Malang, antusiasme masyarakat sangat besar. Artinya, mereka memiliki kebanggaan dan kecintaan terhadap warisan kuliner Nusantara," katanya.

Pada tahun ini, kata dia, Festival Jajanan Bango mengangkat tema "Legenda Kuliner Nusantara" sebagai bentuk penghargaan kepada begitu banyak sosok yang sepenuh hati menjaga resep warisan kuliner nusantara.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah Prasetyo Aribowo dalam kesempatan itu mengakui bahwa kuliner telah menjadi bagian identitas bangsa yang harus dijaga kelestariannya oleh masyarakat.

Apalagi, kata dia, kuliner adalah salah satu daya tarik terbesar bagi wisatawan untuk berkunjung, termasuk ke Jateng, khususnya Semarang, sehingga perlu menjadi penting untuk menjaga kelestarian kuliner.

"Kami berharap para penjaja kuliner di kota ini semakin termotivasi untuk ikut memajukan dan menjaga kelestarian kuliner khas daerah sehingga mampu selalu menghadirkan yang terbaik bagi penggemar kuliner," kata Prasetyo. (K-2/yan)