About

Information

Selasa, 28 Mei 2013

Kenaikan BBM Akan Pengaruhi Inflasi

Selasa, 28 Mei 2013 - 00:41:52 WIB
Kenaikan BBM Akan Pengaruhi Inflasi 
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Bisnis 


Komhukum (Semarang) - Bank Indonesia memperkirakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akan berpengaruh langsung terhadap inflasi karena memberikan potensi peningkatan harga kebutuhan pokok serta sejumlah sektor terkait.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah V Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Joni Swastanto di Semarang, Senin (27/05), mengatakan bahwa sebenarnya wacana kenaikan harga BBM sudah lama.

"Belum jelasnya kebijakan yang diambil oleh Pemerintah menjadikan kondisi ekonomi tidak bagus karena memunculkan spekulasi dan ekspektasi," katanya.

Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah V Jateng-DIY Dewi Setyowati menambahkan, jika kenaikan BBM Rp.1.000 per liter, inflasi akan naik 0,62 persen. Sementara jika naik Rp.2.000, kenaikan inflasinya sebesar 1,24 persen.

"Perkiraan inflasi tersebut merupakan dampak langsung, sementara yang tidak langsung seperti kenaikan tarif di sektor transportasi, misalnya, kapal laut, angkutan umum, dan makanan yang diangkut dengan moda transportasi," katanya.

Joni mengemukakan, jika Pemerintah menaikkan harga BBM pada bulan Juni 2013, akan menjadi tekanan relatif cukup kuat terhadap inflasi.

Sebelumnya, BI memperkirakan inflasi Jateng pada Triwulan II tahun ini akan menurun dibanding triwulan sebelumnya karena membaiknya pasokan, khususnya bumbu-bumbuan, dan terjaganya pasokan beras karena panen raya.

Indikasi menurunnya tekanan inflasi terlihat dari inflasi April 2013 yang secara bulanan mengalami deflasi 0,34 persen sehingga secara tahunan menurun menjadi 5,80 persen (year on year/yoy) pada akhir Triwulan I.

BI memperkirakan pada Triwulan II, inflasi subkelompok bumbu sebesar 11,88 persen (yoy) atau terjadi penurunan dibandingkan akhir Triwulan I yang mencapai 12,86 persen (yoy).

Untuk indeks harga konsumen (IHK) pada Triwulan II diperkirakan pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen (yoy) atau relatif stabil dari triwulan sebelumnya (6,24 persen, yoy).

Sementara itu, untuk pertumbuhan ekonomi, BI memperkirakan pada Triwulan II akan tumbuh dalam kisaran 6-6,4 persen (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.

Dari sisi penggunaan, kata dia, kegiatan konsumsi masih akan tumbuh tinggi seiring dengan masih tingginya permintaan domestik yang salah satunya didorong oleh kenaikan upah minimum kabupaten dan kota serta Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng.

"Sementara dari sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi didorong oleh pertumbuhan sektor 'nontradable', seperti sektor bangunan, sektor jasa, dan PHR. Sektor industri pengolahan diperkirakan juga tumbuh cukup tinggi dalam rangka 'building stock' menjelang Lebaran," demikian Joni Swastanto. (K-5/el)

0 komentar:

Poskan Komentar