About

Information

Kamis, 30 Mei 2013

Anak Desa Itu Sekarang Mendunia

Kamis, 30 Mei 2013 - 11:33:52 WIB
Anak Desa Itu Sekarang Mendunia
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Other 


Komhukum (Sumpiuh) - Perjalanan mencapai desa itu cukup melelahkan. Jika ditempuh dari Jakarta dengan pesawat terbang, maka total waktu tempuh ke Desa Selandaka itu bisa mencapai empat hingga lima jam.

Waktu tersebut terdiri atas sekitar satu jam terbang dari Jakarta ke Yogyakarta, dilanjutkan perjalanan dengan bus selama tiga hingga empat jam menuju Sumpiuh, kota kecamatan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Tapi raut lelah tidak tampak di wajah Tontowi Ahmad (25) yang harus menempuh perjalanan itu untuk pulang ke rumah orang tuanya.

Padahal dia baru saja kembali memperkuat tim Piala Sudirman Indonesia yang tersisih pada perempat final di Kuala Lumpur, Malaysia pekan lalu.

"Terakhir saya pulang mungkin Lebaran tahun lalu," kata pebulu tangkis spesialis ganda kelahiran 18 Juli 1987 itu dengan wajah semringah.

Ia pulang untuk menerima bonus dari klubnya PB Djarum Kudus atas keberhasilan bersama pasangannya Liliyana Natsir mempertahankan gelar juara All England Maret lalu.

Anak bungsu dari tiga bersaudara itu tidak menyangka jika pulang kampungnya kali ini mengundang begitu banyak perhatian, bukan hanya dari keluarga dan teman-temannya, tetapi juga Bupati Banyumas bersama ratusan warga, tua-muda berdesak-desakan ingin melihat Sang Juara dari dekat.

Mereka antri untuk sekadar bersalaman atau berfoto dengan pebulu tangkis yang akrab disapa Owi itu. "Saya baru benar-benar merasa sebagai juara All England. Saya terharu sekali, kalau saya cewek mungkin sudah menangis," katanya.

Siapa mengira jika Tontowi, yang disebut anak "nakal" oleh ayahnya itu, dulu sangat sulit disuruh berlatih bulu tangkis. "Dulu itu ibaratnya kalau tidak ada 'apa-apanya' (maksudnya uang) di net, dia tidak mau latihan," kata ayah Tontowi, Muhammad Husni Muzaitun yang mantan kepala desa itu.

Husni mengaku bahwa dirinya lah yang semula sangat menyukai bulu tangkis dan ingin anak-anaknya Maria Uswatun Hasanah, Yahya Hasan dan Tontowi Ahmad-- mau menekuni olahraga itu.

Untuk itu, ia membangun lapangan bulu tangkis di belakang Toko Bangunan Ragil miliknya, yang jaraknya sekitar tujuh kilometer dari tempat tinggal mereka.

Dua anaknya, Yahya Hasan dan Tontowi Ahmad, yang waktu itu duduk di kelas enam dan tiga Sekolah Dasar, akhirnya mau berlatih bulu tangkis.

Namun Yahya jauh lebih rajin dan disiplin, bahkan kakak Tontowi itu pernah bergabung dengan Klub Pelita pimpinan Icuk Sugiarto.

"Namun baru dua minggu di sana ia sakit keras sehingga tidak melanjutkan berlatih di klub tersebut," lanjut Husni yang tinggal menggantungkan harapan pada si bungsu, Tontowi.

Butuh kesabaran ekstra untuk melatih anak bungsunya yang sebenarnya tidak menyukai bulu tangkis itu. Tontowi seringkali mengajukan banyak alasan untuk mangkir latihan.

"Tetapi ketika kelas satu SMP dia sudah berprestasi," kata Sang Ayah bangga.

Berhenti Berkat kesabaran ayahnya membina, akhirnya Tontowi pun mulai berprestasi dan dilirik klub mau pun pusat pelatihan bulu tangkis.

Selepas SMP, ia bergabung dengan Klub Argo Pantes di Tangerang dan kemudian dilirik Pusdiklat Gresik.

"Sewaktu di Gresik itu saya sempat memutuskan berhenti saja dari bulu tangkis karena tidak punya pasangan," kata Tontowi yang memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

"Untung lah tiba-tiba saya ditawari PB Djarum untuk bergabung." "Saya ingat waktu itu pelatih ganda Deny Kantono menelepon saya, 'mau nggak kamu bergabung ke Djarum'," papar Tontowi mengenang awalnya bergabung dengan klub bulu tangkis terbesar di Tanah Air itu.

Sejak itu, ia sudah sedikitnya lima kali gonta ganti pasangan sebelum akhirnya berduet dengan Liliyana Natsir, yang sebelumnya sudah menjadi juara dunia dua kali dan meraih medali perak Olimpiade bersama Nova Widianto.

"Saya sungguh tidak menyangka akan dipasangkan dengan dia (Liliyana) karena masih ada beberapa pemain yang lebih senior dari saya seperti Muhammad Rijal dan Fran Kurniawan," katanya mengenai sang idola.

Ia mengakui bahwa jauh sebelumnya, ia sudah mengidolakan pasangan Nova Widianto-Liliyana Natsir, pasangan yang beberapa lama menduduki peringkat teratas dunia.

Sekarang, bersama Liliyana, pasangan duetnya sejak 2010, Tontowi sudah pula menjadi salah satu ganda campuran yang disegani lawan-lawannya dari berbagai belahan dunia.

"Dia sudah membuat bangga orang tua. Dia berhasil memberikan dua gelar All England, mudah-mudahan ke depan ia bisa menjadi juara dunia dan Olimpiade," harap Husni.

Ia sadar, anaknya itu, yang sekarang menempati ranking dua dunia bersama Liliyana, bukan lagi atlet lokal melainkan atlet dunia. (K-5/el)

0 komentar:

Poskan Komentar