Minggu, 26 Mei 2013 - 08:16:11 WIB
Inilah Kuliner Warisan Kolonial Khas Banda
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Kuliner
Komhukum (Maluku) - Bagi siapa saja yang pernah berkunjung ke wilayah Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku pasti pernah dimanjakan oleh panorama indah dan kelezatan kulinernya.
Sama halnya saat saya berkunjung ke kota Bandaneira yang terletak di Pulau Naira, saya pun dimanjakan oleh kedua hal yang sama tersebut.
Belajar dari pengalaman kuliner saya, yang menjadi signature dish (hidangan khas) Kepulauan Banda ini bukan hanya olahan papeda (olahan berbahan sagu) tapi lebih kepada lauk pelengkapnya. Pilihan saya jatuh kepada hidangan legendaris Bandaneira yakni ikan kuah pala.
Hidangan berbahan ikan segar dengan bumbu rempah kuat ini merupakan warisan kuliner jaman penjajahan Belanda. Kuliner ikan kuah pala ini juga punya kaitan erat dengan sejarah Kepulauan Banda lho. Kok bisa?
Sama halnya saat saya berkunjung ke kota Bandaneira yang terletak di Pulau Naira, saya pun dimanjakan oleh kedua hal yang sama tersebut.
Belajar dari pengalaman kuliner saya, yang menjadi signature dish (hidangan khas) Kepulauan Banda ini bukan hanya olahan papeda (olahan berbahan sagu) tapi lebih kepada lauk pelengkapnya. Pilihan saya jatuh kepada hidangan legendaris Bandaneira yakni ikan kuah pala.
Hidangan berbahan ikan segar dengan bumbu rempah kuat ini merupakan warisan kuliner jaman penjajahan Belanda. Kuliner ikan kuah pala ini juga punya kaitan erat dengan sejarah Kepulauan Banda lho. Kok bisa?
Sembari menikmati hidangan ikan kuah pala, saya bertanya kepada si tukang masak perihal asal usul hidangan ini. Dengan antusias si tukang masak ini bercerita bahwa pada abad ke-19 wilayah Banda di Kabupaten Maluku Tengah ini adalah satu-satunya penghasil rempah pala dan fuli untuk Indonesia.
Mengetahui wilayah ini kaya akan rempah-rempah, penjajah Belanda membawa serta organisasi perdagangannya yang populer saat itu, yakni VOC. Maka berdirilah markas VOC di wilayah Banda saat abad ke-19 itu. VOC mengincar rempah khas Banda (rempah pala) untuk dibawa ke Eropa. Bahkan saat itu rempah pala bernilai lebih dari emas, cerita si tukang masak.
Karena, wilayah timur NKRI kaya akan potensi laut berupa perikanan, masyarakat setempat menggabungkan dua kekayaan khas Maluku Tengah ini (pala dan ikan laut) dalam sebuah hidangan khas bernama ikan kuah pala. Ikan kuah pala saat itu disajikan hanya kepada petinggi penjajah Belanda dan para bos-bos VOC, tutup cerita si tukang masak tersebut. Bukan main gumam saya dalam hati!
Ikan yang digunakan dalam sajian ikan kuah pala ini haruslah ikan laut segar, namun untuk sekarang ini ikan kerapu dan kakap merah adalah pilihan yang lazim diolah. Hidangan sop ikan bercitarasa asam pedas ini sepintas mirip sajian kuah asam khas Sulawesi Utara.
Bisa jadi karena letak geografis Maluku dan Sulawesi yang berdekatan, maka timbul persamaan cara masak hanya beda penggunaan rempah saja. Pakemnya menikmati sop ikan kuah pala ini adalah dengan papeda, tapi bila disantap dengan nasi pun tidak ada salahnya.
Sebagai pelengkapnya, saya memesan hidangan kuah pala ini dengan tumisan sayur daun pepaya dan sambal bakasang. Bakasang (khas Minahasa) adalah hasil fermentasi jerohan ikan cakalang yang digarami dan direndam perasan air jeruk lemon cui selama beberapa hari.
Mengetahui wilayah ini kaya akan rempah-rempah, penjajah Belanda membawa serta organisasi perdagangannya yang populer saat itu, yakni VOC. Maka berdirilah markas VOC di wilayah Banda saat abad ke-19 itu. VOC mengincar rempah khas Banda (rempah pala) untuk dibawa ke Eropa. Bahkan saat itu rempah pala bernilai lebih dari emas, cerita si tukang masak.
Karena, wilayah timur NKRI kaya akan potensi laut berupa perikanan, masyarakat setempat menggabungkan dua kekayaan khas Maluku Tengah ini (pala dan ikan laut) dalam sebuah hidangan khas bernama ikan kuah pala. Ikan kuah pala saat itu disajikan hanya kepada petinggi penjajah Belanda dan para bos-bos VOC, tutup cerita si tukang masak tersebut. Bukan main gumam saya dalam hati!
Ikan yang digunakan dalam sajian ikan kuah pala ini haruslah ikan laut segar, namun untuk sekarang ini ikan kerapu dan kakap merah adalah pilihan yang lazim diolah. Hidangan sop ikan bercitarasa asam pedas ini sepintas mirip sajian kuah asam khas Sulawesi Utara.
Bisa jadi karena letak geografis Maluku dan Sulawesi yang berdekatan, maka timbul persamaan cara masak hanya beda penggunaan rempah saja. Pakemnya menikmati sop ikan kuah pala ini adalah dengan papeda, tapi bila disantap dengan nasi pun tidak ada salahnya.
Sebagai pelengkapnya, saya memesan hidangan kuah pala ini dengan tumisan sayur daun pepaya dan sambal bakasang. Bakasang (khas Minahasa) adalah hasil fermentasi jerohan ikan cakalang yang digarami dan direndam perasan air jeruk lemon cui selama beberapa hari.
Sedangkan ulang- ulang adalah campuran sayur segar yang terdiri dari kangkung, kacang panjang, tauge, terong, wortel dan mentimun yang dicampur dengan bumbu terasi, cabai ulek, kenari tumbuk, dibumbui sedikit air jeruk limau dan garam. Wah…benar-benar kaya rasa!
Makanya saat berkunjung ke Kepulauan Banda di wilayah Maluku Tengah mampir saja ke sembarang kedai makanan khas setempat. Dijamin anda bakal menemukan sop ikan kuah pala yang nikmat ini.
Harganya relatif murah, seporsi ikan kuah pala yang berisi satu ikan ukuran sedang berharga Rp 25.000-40.000 (tergantung ukuran ikannya) termasuk papeda atau nasi putih. Seporsinya lumayan besar, bisa untuk makan 3 orang. Untuk lauk pendampingnya berkisar Rp. 6.000-15.000 per porsi. Penasaran? Saya saja sampai ketagihan! (K-4/Iyo)
Makanya saat berkunjung ke Kepulauan Banda di wilayah Maluku Tengah mampir saja ke sembarang kedai makanan khas setempat. Dijamin anda bakal menemukan sop ikan kuah pala yang nikmat ini.
Harganya relatif murah, seporsi ikan kuah pala yang berisi satu ikan ukuran sedang berharga Rp 25.000-40.000 (tergantung ukuran ikannya) termasuk papeda atau nasi putih. Seporsinya lumayan besar, bisa untuk makan 3 orang. Untuk lauk pendampingnya berkisar Rp. 6.000-15.000 per porsi. Penasaran? Saya saja sampai ketagihan! (K-4/Iyo)







0 komentar:
Posting Komentar