About

Information

Selasa, 28 Mei 2013

Kisah Duka Dari Tragedi Perang Somalia

Selasa, 28 Mei 2013 - 00:23:23 WIB
Kisah Duka Dari Tragedi Perang Somalia 
Diposting oleh : Administrator 

Komhukum (Mogadishu) - Setelah bertahun-tahun terpisah akibat konflik di Somalia, Isha Farah akhirnya bisa berhubungan lagi dengan putrinya, yang berusia 23 tahun.

Ketika Isha mengangkat telepon yang menghubunginya dari Mombasa, Kenya, ia segera mengenali suara putrinya Batulo, meskipun suara putrinya tidak lagi sama dengan suara yang ia ingat.

Air mata Isha mengalir karena bahagia. Di bagian lain saluran telepon, Batulo terisak dan suaranya tersedak karena perasaan.

Pada 2009, Isha Farah kehilangan kontak dengan putrinya tersebut, yang berusia 23 tahun, dan suaminya, ketika mereka meninggalkan Ibu Kota Somalia, Mogadihsu, untuk menyelamatkan diri dari kerusuhan yang berkecamuk.

Isha nyaris tak bisa tidur nyenyak pada malam hari sejak ia kehilangan kontak dengan Batulo. "Saya bermimpi menemukan putri saya," kata Isha.

"Saya ingat setiap hari bersama dia dan berdoa bagi kepulangannya," kata Isha mengenang hari-hari yang takkan pernah bisa ia lupakan.

Penderitaannya berakhir awal tahun ini, saat berita baik dari Masyarakat Bulan Sabit Merah Somalia (SRCS) datang: putrinya, Batulo, tinggal di Kota Pelabuhan Kenya, Mombasa, demikian laporan Xinhua -yang dipantau di Jakarta, Senin (27/05) malam.

Relawan dari Masyarakat Bulan Sabit Merah lokal Somalia (SRCS) dan mitra mereka, Palang Merah Internasional dan Masyarakat Bulan Sabit Merah (ICRC) di negara Tanduk Afrika tersebut, telah melacak putrinya selama berbulan-bulan.

"Alhamdulillah saya sekarang bisa mengadakan kontak dengan putri saya, yang berada di Mombasa bersama suami baru dan mereka telah mempunyai dua anak," kata Isha.

Isha dan Batulo adalah bagian dari ribuan keluarga Somalia yang terpisah akibat konflik yang telah berlangsung lebih dari dua dasawarsa.

Omar Hassan Muse, Koordinator Nasional Pelacakan SRCS, menyatakan sungguh tantangan berat untuk melacak orang yang kehilangan kontak dengan keluarga mereka selama bertahun-tahun. Sebagian upaya memilih akhir bahagia sementara sebagian lagi tidak.

"Pekerjaan kami ialah memulihkan kontak antara anggota keluarga dan menyatukan mereka. Kami telah berhasil dalam banyak upaya kami dan kadangkala kami tak bisa melacak orang yang dicari dan itu menyedihkan buat keluarga tersebut dan buat kami juga," kata Muse.

Abdi Idow, seorang warga di Mogadishu, salah satu orang yang selama ini tidak beruntung. Ia belum bisa menghubungi putrinya selama hampir 22 tahun dan berada di kantor setempat Masyarakat Bulan Sabit Merah di Mogadishu.

Idow mengatakan putrinya, yang berusia 12 tahun, menyelamatkan diri bersama anggota lain keluarganya setelah konflik meletus di Ibu Kota Somalia pada 1990.

Sejak itu, ia tak pernah mendengar kabar mengenai putrinya dan beberapa tetangga yang menyelamatkan diri bersama dia, meskipun ia diberitahu keluarga tersebut bersama putrinya mencari suaka di Amerika.

"Saya berada di sini untuk meminta bantuan menemukan putri saya. Kami kehilangan kontak dengan dia selama bertahun-tahun lalu dan terakhir kali saya mendengar kabar tentang dia dan keluarga itu ialah ketika kami diberitahu mereka berada di AS," kata Idow.

Meskipun bertahun-tahun telah berlalu, Idow mengatakan ia dan keluarganya tak pernah kehilangan harapan akan dapat menemukan putrinya.

Selain melakukan pelacakan, Bulan Sabit Merah Somalia dan ICRC mengoperasikan layanan hubungan telepon genggam buat orang yang menjadi pengungsi di dalam negeri mereka di Kamp Rajo, Mogadishu.

Warga menghubungi kerabat di tempat asal mereka menyelamatkan diri untuk memperoleh kabar mengenai anggota keluarga dan kondisi secara umum.(K-5/el)

0 komentar:

Poskan Komentar