About

Information

Jumat, 24 Mei 2013

Mama Aleta Baun Raih Penghargaan Liputan 6 Award

Jumat, 24 Mei 2013 - 11:58:23 WIB
Mama Aleta Baun Raih Penghargaan Liputan 6 Award
Diposting Oleh : Administrator 

Komhukum (Jakarta) - Mama Aleta Baun yang sebelumnya dinobatkan sebagai salah seorang perempuan Indonesia yang menjadi salah satu dari enam pemenang penghargaan Goldman Prize serta berhak mendapat $150 ribu atau Rp. 1,4 miliar kini kembali meraih penghargaan Liputan 6 Award kategori Lingkungan Hidup.

Prestasi Aleta adalah, dia mengorganisir ratusan warga desa setempat untuk secara damai menduduki tempat-tempat penambangan marmer dalam suatu protes sambil menenun. Aleta Baun menghentikan pengrusakan tanah hutan yang sakral di Gunung Mutis di pulau Timor.

Aleta Baun tak menyangka kegigihan dirinya bersama masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk menjaga kelestarian lingkungan di kawasan hutan Mollo Utara, Timor Tengah Selatan, mengantarkan dirinya meraih penghargaan Liputan 6 Award kategori Lingkungan Hidup.
Mama Aleta sapaan akrabnya itu mengungguli 3 nominator lain.

Mama Aleta mengaku tak punya banyak keinginan. Ia hanya ingin pelestarian alam bisa berdampak positif terhadap ekosistem yang tumbuh dan berkembang.

"Saya masih kaget terpilih. Tapi yang terpenting itu, berperanlah selalu di dalam pelestarian alam di negeri kita ini. Banyak cara, cara kecil dengan membiasakan dalam kehidupan sehari-hari saja itu sudah bagus sekali," katanya kepada media sambil memegang penghargaan Liputan 6 Award di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia, Jalan Gajah Mada No. 111, Jakarta Pusat, Kamis (23/05).

Dengan rendah hati Ia berpendapat nominator lai juga orang-orang yang mempunyai keunggulan yang luar biasa. "Nominator lain itu juga orang hebat semua," imbuh Mama Aleta.

Mama Aleta unggul atas 3 kandidat lain yakni pelestari dari Gunung Sumbing Jawa Tengah, Mukidi, pengayuh becak yang hijaukan Banjarmasi, Kalimantan Selatan, Muhammad Syamsudin, dan dokter gigi yang peduli lingkungan Hotlin Ompusunggu dari Kalimantan Barat.

Kegigihan Mama Aleta berawal dari merebaknya kegiatan penambangan marmer di kawasan Mollo Utara. Kegiatan itu membuat hati Aleta Baun sedih. Ibu warga Mollo yang biasa disapa Mama Aleta ini tak bisa berpangku tangan. Ia mengajak warga 3 suku setempat; Mollo, Amanatun, dan Amanuban untuk bahu-membahu menolak aktivitas pertambangan.

"Di mana orang timur menganggap bumi itu seorang ibu. Batu itu tulang, air itu adalah darah, ketika salah satunya hilang, sebagai manusia tidak bisa berbuat apa-apa," kata Mama Aleta. (K-5/el)

0 komentar:

Poskan Komentar