About

Information

Rabu, 26 Juni 2013

Jual Ginjal Untuk Tebus Ijazah, Bagaimana Tanggapan Sekolah ?

Rabu, 26 Juni 2013 - 18:11:37 WIB
Jual Ginjal Untuk Tebus Ijazah, Bagaimana Tanggapan Sekolah ?
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Umum 


Komhukum (Bogor) - Seorang ayah ditemani putrinya bernama Sarah Melanda Ayu nekat menawarkan ginjalnya di Bundaran HI, Jakarta, untuk mengumpulkan uang guna menebus ijazah yang ditahan pihak sekolah.

Bagaimana tanggap pihak sekolah terhadap aksi nekat ayah dan putrinya itu ? Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor, tempat Sarah Melanda Au bersekolah membantah telah menahan ijazah Sarah.

Humas Pesantren Nurul Iman, Syaifuddin menyatakan Sarah Melanda Ayu memang pernah tercatat sebagai siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di pesantren tersebut. Sarah juga pernah kuliah di salah satu pendidikan tinggi yang dikelola pesantren, namun kemudian putus di tengah jalan.

"Dia itu melanggar peraturan berkali-kali," kata Syaifuddin kepada media di Jakarta, Rabu (26/06).

Menurut pihak sekolah, pelanggaran yang dilakukan Sarah antara lain dia pernah kabur dari pondok dengan melompati pagar.

Sarah akhirnya kembali ke sekolah lagi setelah pendiri sekolah, Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abi Bakar bin Salim atau dipanggil Abah memaafkan dirinya. Namun Sarah pun akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah di tingkat perguruan tinggi.

Menurut Syaifuddin, pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Sarah tentu saja ada hukumannya. Sarah pun didenda oleh pihak sekolah.

Syaifuddin menegaskan, Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman menggratiskan pendidikan dari mulai tingkat SD sampai perguruan tinggi. Siswa digratiskan mulai dari pendidikan, akomodasi, makan-minum dan sampai sarana belajar.

Syaifuddin meminta media massa mengklarifikasi langsung kepada dirinya terkait aksi nekat ayah yang menjual ginjal untuk menebus ijazah anaknya itu.

"Kita mungkin mendengar berita negatif saja, sebaiknya datang langsung saja ke sini menemui kami," kata Syaifuddin.

Sebelumnya, Sugiyanto melakukan aksi menawarkan ginjalnya kepada para pengendara mobil yang lalu lalang di sekitar Bundaran HI. Ia mengaku nekat melakukan aksi tersebut karen butuh biaya untuk menebus ijazah anaknya yang sudah sekolah selamat 7 tahun di lembaga pendidikan tersebut. 

"Tahun lalu lulus SMA, sempat kuliah di sana beberapa bulan. Namun karena ada masalah di ponpes itu, anak saya keluar," kata Sugiyanto.

Sugiyanto mengatakan, anaknya sekolah di ponpes itu sejak tahun 2005 dan lulus pada tahun 2012. Dia diminta uang untuk menebus ijazah SMP dan SMA anaknya selama bersekolah di sana. 

Awalnya Sugiyanto dijanjikan bahwa ijazah tersebut gratis, namun ketika pemimpin ponpes meninggal dan digantikan oleh yang baru, dia diminta biaya tebusan, yakni Rp. 7 Juta untuk ijazah SMP dan Rp. 10 Juta untuk ijazah SMA.

Sugiyanto yang hanya berprofesi sebagai tukang jahit itu mengaku bingung diminta uang sebesar Rp. 17 Juta. "Saya mohon ke pondok dengan mengajukan surat miskin namun ditolak," kata warga Tegal Alur, Jakarta Barat.

Sugiyanto juga pernah mendatangi Komnas HAM, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama. Namun nasib ijazah anaknya masih tidak jelas. "Saya sudah usaha ke sana kemari tapi tetap tidak ada kejelasan," lanjutnya.

Setelah usahanya tidak ada yang menanggapi, akhirnya Sugiyanto berniat menjual ginjalnya. Dia mengaku bersyukur jika ada orang yang mau memberikan bantuan kepada dirinya. Namun Sugiyanto juga siap jika memang harus kehilangan organ vitalnya itu. 

"Berikan saja ijazah secara gratis. Kalau sekolah nggak mau juga, kita adukan ke Mendikbud," kata seorang guru. (K-2/yan)

0 komentar:

Poskan Komentar