About

Information

Minggu, 02 Juni 2013

Mencari Peluang Pasar ke "Negeri Drakula"

Minggu, 02 Juni 2013 - 05:30:07 WIB
Mencari Peluang Pasar ke "Negeri Drakula"
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Bisnis 


Komhukum (Bukares) - "Jarang pejabat yang mau ke sini," kata-kata itu meluncur dari Dubes RI untuk Rumania, Marianna Sutadi, ketika menerima delegasi misi dagang dari Kementerian Perdagangan. Rumania dengan penduduk hanya sekitar 21 juta jiwa memang bukan pasar yang terlalu menarik bagi kalangan pebisnis di Indonesia.

Letaknya yang relatif jauh dengan pasar yang kecil, tentu menjadi perhitungan tersendiri bagi eksportir nasional untuk masuk ke negeri yang terkenal dengan cerita drakula dari Transylvania itu.

Namun tidak berarti, tidak ada produk Indonesia di negeri itu. Marianna menyebut sejumlah barang konsumsi asal dari Indonesia sudah beredar di Rumania, antara lain sedotan, mi instan, kecap, kerupuk, bahkan peralayan makan dan bulu mata palsu dijual di toko-toko kosmetik. "Tapi saya tidak tahu datangnya dari mana barang tersebut," ujar mantan hakim agung itu.

Berdasarkan data Kementerian Pedagangan, sejumlah produk nasional yang tercatat diekspor ke negeri itu antara lain karet dan produk karet, bahan kimia, lemak hewan dan nabati, kopi, headphone dan earphone, peralatan radar, kawat gulung, serta peralatan tv dan video. Lantas dari mana barang-barang yang disebutkan Marianna tersebut?

Ia menengarai produk konsumsi tersebut masuk melalui negara lain di sekitar Rumania, termasuk dari Eropa Barat seperti Belanda. "Padahal jangan lihat Rumania dari jumlah penduduknya yang kecil. Negeri ini bisa dijadikan 'hub' ke negara di sekitarnya, karena memiliki pelabuhan yang dalam dan besar di Constanta," ujarnya.

Mulai diperhatikan
Diakui Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami, yang memimpin misi dagang ke sejumlah negara di Eropa Timur, selama ini Rumania kurang diperhatikan sebagai negara tujuan ekspor yang penting.

Hal itu terlihat dari neraca perdagangan kedua negara yang relatif masih kecil dalam lima tahun terakhir (2008-2012), namun tumbuh rata-rata sebesar 25,8 persen.

Pada 2008 neraca perdagangan RI-Rumania baru mencapai 87,6 juta dolar AS dan tumbuh menjadi 172,7 juta dolar AS dengan surplus di pihak Indonesia. Pada 2012 ekspor nasional ke negeri yang luasnya hanya 238 ribu km2 itu mencapai 106,4 juta dolar AS, dengan impor dari negeri itu sebesar 66,3 juta dolar AS. Impor Indonesia dari Rumania antara lain turbin gas, mesin, pipa untuk minyak dan gas, serta pakaian jadi.

"Rumania dan negara Eropa Timur lainnya dulu memang kurang diperhatikan. Kita lebih tertarik dengan pasar di Eropa Barat," ujar Gusmardi mengakui. Apalagi, dulu sebagian besar negara-negara Eropa Timur, kata dia, memiliki prosedur impor yang sangat ketat dan tidak jelas.

Namun, setelah mereka masuk WTO dan bergabung dengan Uni Eropa, perlahan mereka mengikuti standar dunia yang berlaku. "Ini misi dagang kami yang pertama ke negeri ini, meskipun bukan yang pertama menjajaki kerja sama karena sebelumnya sudah ada nota kesepahaman yang telah ditandatangani tahun 2005," kata Gusmardi.

Oleh karena itu, ia melihat peluang kerja sama dan peningkatan perdagangan serta investasi kedua negara sangat besar. Peluang Kesepakatan peningkatan perdagangan itu terungkap ada pertemuan bilateral antara delegasi Indonesia yang dipimpin Gusmardi yang di dampingi Marianna Sutadi dengan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Lingkungan Bisnis Rumania, Radu Zaharia, Senin (27/5).

"Dirjen Perdagangan Luar Negeri Rumania mengakui sudah tujuh tahun pihaknya tidak berada di Indonesia, dan sekarang mereka ingin kembali ke Indonesia," kata Gusmardi. Menurut dia, Indonesia bisa memanfaatkan keahlian dan pengalaman Rumania di bidang pertanian. "Teknologi dan mesin pertaniannya sangat bagus," katanya.

Sedangkan pihak Indonesia, pada forum bisnis yang hadiri kamar dagang (Kadin) dan sejumlah pebisnis Rumania, menawarkan kerja sama pengembangan bisnis makanan dan minuman, komponen otomotif, spa, dan industri pertahanan. "Saya yakin barang-barang konsumsi dari Indonesia bisa masuk ke sini," ujar Gusmardi.

Tidak hanya karena produk Indonesia sudah lumayan dikenal, tapi juga karena daya beli masyarakat Rumania dengan pendapatan per kapita sekitar 13 ribu dolar AS, cukup besar.

Bahkan ia melihat prospek spa di Rumania sangat besar, mengingat produk gaya hidup dan fesyen digemari di negeri itu. Apalagi Marianna Sutadi pun, mengatakan produk rempah-rempah untuk spa sudah masuk ke Rumania.

"Saya menilai misi dagang ke Rumania ini tidak salah pilih. Tinggal bagaimana bagaimana memanfaatkan dan menekuni," kata Gusmardi, yang sepakat dengan Marianna bahwa Rumania bisa dijadikan pusat distribusi produk Indonesia ke negara lain di sekitarnya seperti Serbia, Bulgaria, dan Moldova.

Sejumlah pengusaha kecil dan menengah yang ikut dalam misi dagang ke Ukraina dan Rumania, mengakui Rumania menyimpan peluang ekspor yang besar. "Perhiasan saya yang harganya 100 - 600 dolar saja mereka bilang murah, dan ada yang mengajak membuka toko di sini," ujar Ratna Zhuhry, perajin perhiasan mutiara. (K-4/EIO)

0 komentar:

Poskan Komentar