About

Information

Minggu, 02 Juni 2013

Tradisi "Pukul Sapu" Sampai Badarah

Minggu, 02 Juni 2013 - 04:50:18 WIB
Tradisi "Pukul Sapu" Sampai Badarah
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Tradisi 



Komhukum (Ambon) - Uniknya suatu tradisi masyarakat bisa disebabkan oleh banyak hal yang masih berkaitan erat dengan unsur historis daerah itu sendiri.

Sebagai contoh adalah tradisi Pukul Sapu di Kepulauan Maluku. Tradisi ini timbul karena sejarah setempat dan menggambarkan beberapa hal.

Ungkapan Syukur
Sejarahnya, pada tahun 1646 sedang dibangun mesjid di Negeri (Desa) Mamala. Saat itu terdapat 3 tokoh utama yang melatarbelakangi cerita sejarah ini, yakni: Kepala Pemerintahan Latuuleo, Kepala Agama Imam Tuni, dan Kepala Tukang Patih Tiang Besi.

Kejadian bermula saat proses pembangunan mesjid, salah satu tiang penyangganya patah. Berundinglah ketiga tokoh tersebut, karena tiang yang patah ini tidak boleh disambung dengan pasak. Karena bingung, Latuuleo minta kepada Imam Tuni untuk memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

Tidak butuh waktu lama, Imam Tuni mendapat pencerahan dari Sang Khalik. Petunjuknya adalah tiang yang patah bisa disambung dengan olesan minyak kelapa pada bagian yang patah. Setelah diaplikasikan ternyata berhasil.

Minyak kelapa atau minya Tasala ini konon juga bisa menyembuhkan keseleo, bengkak, dan beberapa cedera ringan lainnya. Untuk membuktikannya, dua orang warga desa Mamala saling melukai badan dengan sabetan sapu lidi aren agar keduanya mengalami luka / cedera. Setelah timbul luka, lalu diolesi minyak tasala tadi.

Ajaib, lukanya sembuh! Para leluhur pun bersyukur dengan penemuan “obat ajaib” ini. Karena saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, maka moment itu diperingati dengan ritual pukul sapu lidi aren setiap tanggal 7 Syawal atau hari ketujuh setelah hari raya Idul Fitri.
Mengenang Perang Kapahaha.

Pada tahun 1637 s/d 1646 terdapat perang Kapahaha yang saat itu bertujuan untuk mempertahankan benteng terakhir di hutan Negeri (Desa) Morella dari serbuan penjajah Belanda. Mereka yang tertangkap Belanda ditawan dan disiksa selama 3 bulan di Teluk Sawatelu.

Pemimpin masyarakat Morella saat itu adalah Kapitan Telukabessy yang sempat lolos dari sergapan kompeni. Melihat pasukannya banyak tertangkap, Kapitan Telukabessy pun menyerahkan diri kepada Belanda. Sayangnya beliau dihukum gantung dan jasadnya dibuang di pantai Namalatu.

Tepat tanggal 27 November 1664 (bulan Ramadhan saat itu) seluruh tawanan dibebaskan penjajah. Selesai sudah perang saat itu. Para mantan pejuang dan tawanan melakukan aksi pukul sapu lidi aren antar mereka yang bebas.

Setiap genggaman kuat sapu lidi aren, kuatnya pukulan, dan luka akibat pukulan sapu lidi aren yang mereka derita dimaksudkan untuk menggambarkan emosi, kekuatan, dan kerasnya perjuangan masyarakat Morella melawan penjajah saat itu. Usai ritual tersebut, mereka berpeluk erat dan berjanji untuk saling pukul sapu lidi lagi setiap hari ketujuh sesudah Idul Fitri.

Itulah asal-usul dan makna ritual adat Pukul Sapu yang berlangsung sampai saat ini. Alhasil, desa Malala dan desa Morella yang terletak di kecamatan Leihitu, kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku ini ramai diserbu wisatawan domestik dan mancanegara yang ingin menyaksikan adat Pukul Sapu setiap habis Lebaran. Penduduk desa maupun pulau tetangga pun juga tidak mau ketinggalan untuk hadir pada event ini. Bukan main antusiasnya! (K-4/Iyo)

0 komentar:

Poskan Komentar