About

Information

Selasa, 25 Juni 2013

Warga Lereng Merapi Gelar Tradisi "Sadranan"

Selasa, 25 Juni 2013 - 15:27:12 WIB
Warga Lereng Merapi Gelar Tradisi "Sadranan"
Diposting Oleh : Administrator
Kategori: Info Wisata 


Komhukum (Boyolali) - Ribuan warga di lereng Gunung Merapi mengikuti upacara tradisi "sadranan" yang dilakukan setiap tahun menjelang bulan puasa, di tempat pemakaman umum Suroloyo di Dukuh Tunggulsari, Kabupaten Botolali, Jawa Tengah, Selasa (25/06).

Ribuan warga yang datang di halaman tempat pemakaman leluhurnya tersebut dengan membawa berbagai kue makanan khas desa setempat yang ditempakan di dalam "tenong" atau tempat makanan berbentuk bundar yang dibagikan kepada masyarakat sebagai sedekah dilimpahkan rezeki.

Upacara ritual Sadranan yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB dengan membacakan doa-doa untuk para leluhurnya dan kemudian dilanjutkan dengan pembagian makanan atau kue-kue khas atau jajanan pasar yang menggambarkan kemakmuran hasil bumi masyarakat sekitar.

Menurut Andi Murtono, salah satu panitia sadranan di Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, kegiatan tersebut sudah tradisi dilakukan setiap tahun sejak nenek moyang dahulu. Sehingga, warga sebagai generasi sekarang hanya meneruskan untuk melestarikan hingga saat ini.

Menurut dia, jumlah warga yang menghadiri upacara tradisi sadranan tersebut sekitar 5.000-an orang, dan tenong yang dibawa sekitar 2.000-an. Kegiatan upacara sadranan tahun ini lebih besar dibanding tahun lalu.

"Warga lereng Merapi khususnya di Cepogo Boyolali ini, lebih ramai saat upacara sadranan dibanding Lebaran. Mereka sanak saudara dan teman yang bekerja di luar daerah pulang kampung untuk mengikuti tradisi ini," katanya.

Jaelani (47), warga RT 2 RW 02 Dukuh Mliwis, Sukabumi, mengatakan kegiatan upacara sadranan tersebut waktunya sudah ditunggu-tunggu oleh masyarakat, karena dilaksanakan setiap tahun menjelang puasa.

Bahkan, masyarakat banyak yang menabung hanya untuk biaya kegiatan upacara tradisi sadranan yang ramai dikunjungan banyak orang terutama sanak saudara, teman maupun tetangga.

Menurut dia, warga sebelum mengikuti upacara sadranan mereka membersihkan makam leluhurnya kemudian mengikuti doa bersama dan membagikan kue-kue kemasyarakat umum.

Selain itu, warga di rumah juga mempersiapkan masakan-masakan istimewa dan makanan khas untuk menyambut tamu-tamu yang hadir di rumahnya bersilaturohmi setelah upacara sadranan.

"Setiap rumah kondisi terbuka untuk menyambut tamu yang akan bersilaturohmi. Mereka tamu istimewa diwajibkan untuk mencicipi masakanan yang disajikan di meja makan," katanya.

Menurut dia, keyakinan warga setempat jika makanan habis karena tamunya banyak, maka mereka akan dilimpahkan rezeki berlipat dari Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara upacara Sadranan tersebut dipimpin oleh seorang tokoh agama di desa setempat Kiai Haji Muhammad Suparno, dengan membacakan doa-doa untuk diberikan keselamatan, kemakmuran, murah rezeki, serta mendoakan para leluhurnya.

Kiai Haji Muhammad Suparno, menjelaskan, upacara ritual Sadranan dengan membawa makanan untuk dibagikan warga yang tidak mampu tersebut merupakan tradisi yang dilakukan sejak para leluhurnya merupakan cikal bakal zaman penyebaran agama Islam di desa setempat.

Menurut dia, sebagai orang Jawa tradisi tersebut terus dilestarikan hingga sekarang seperti yang diajarkan oleh para wali dengan memberikan sedekah agar mendapatkan barokah. (K-5/el)

0 komentar:

Poskan Komentar